Wacana Gagasan

Peradaban VS Lingkungan Hidup

Oleh : Krisdinar Sumadja

Fenomena mudik tahun 2008 ini memberikan indikasi adanya peningkatan penggunaan kendaraan bermotor yang semakin meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jumlah kendaraan roda dua dari berbagai merek tampaknya hampir mendominasi jalur pantura tatkala kita melihat berita TV yang disiarkan melalui sorotan kamera dari udara (skyview). Para pemerhati lingkungan memandang fenomena ini sebagai sebuah ancaman terhadap lingkungan karena penggunaan kendaraan bermotor memberikan arti semakin tercemarnya udara oleh gas buang CO yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor tersebut

Kita semua maklum, banyak factor penyebab rusaknya lingkungan, antara lain buangan industri berupa gas beracun Sulfur Dioksida (SO2) yang kemudian dioksidasi oleh udara bumi (O2) menjadi Sulfur Trioksida SO3. Selanjutnya, seperti yang kita ketahui apabila gas-gas ini mengembara kemana-mana dan bereaksi dengan uap air (H2O) diatas sana, maka akan bereaksi menjadi asam sulfit (H2SO3) dan asam sulfat (H2SO4). Tentu saja bisa kita bayangkan hasil reaksi kimia berbahaya ini apabila turun ke bumi dalam bentuk hujan.

Tentunya atas dasar pemikiran itulah kemudian keluar berbagai kebijakan atau pengaturan tentang pendirian industry, diantaranya perlu disertai dengan hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Variable/aspek yang dianalisis pasti banyak mulai dari aspek teknis, social, ekonomi, sampai ke lingkungan hidup. Meminimalisir bahaya yang disebabkan kendaraan, aturannya lebih banyak lagi, mulai dari upaya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi (kebijakan tri in one di jalan utama Jakarta) sampai dengan upaya mengurangi ruang gerak mobil/kendaraan yang umurnya lebih dari lima tahun.

Pembangunan adalah pilihan yang sudah kita putuskan. Konsekuensi dari pilihan tersebut pasti bukan pilihan karena suka atau tidak taraf peradaban manusia hingga saat ini baru bisa menciptakan industry dan kendaraan yang masih menghasilkan Sulfur dioksida (SO2) dan karbon monoksida (CO). Tentunya kita tidak ingin disebut sebagai orang yang mengingkari peradaban manusia dengan memberantas industry dan kendaraan dan kembali ke jaman abad pertengahan atau jaman batu, hanya karena takut konsekuensi logis dari sebuah pilihan. Kita pasti setuju adanya gerakan dan pergerakan penyelamatan bumi dari berbagai ancaman gas berbahaya, tapi tentunya konsep penyelamatan yang selaras dengan fitrah manusia yang selalu mempunyai gerakan peradaban (teknologi) dan memanfaatkan setiap gerakan peradaban (teknologi). Artinya tidak dengan cara menghindari konsekuensinya tapi dengan menghadapinya dengan produk peradaban lain yang mengeliminir dampak negative dari peradaban/ teknologi yang dihasilkan.

Salah satu upaya menghadapi gas CO dan CO2 yang dihasilkan kendaraan adalah dengan memperbanyak vegetasi/tanaman di bumi ini sehingga dapat mengikat gas CO2 untuk kemudian tanaman menghasilkan O2 yang dibutuhkan manusia dan hewan. Untuk kepentingan itu kita hargai kehendak pemerintah agar setiap kota mempunyai hutan kota minimal 20 % dari wilayah administratifnya. Begitu pula Pemkot Bandung telah mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan warganya untuk menanam minimal satu pohon di halaman rumah masing-masing. Masih banyak kebijakan-kebijakan lain yang mendorong ahli tanaman, kehutanan dan lansekap untuk menciptakan beradaban baru yang dapat mengeleminir dampak negative dari peradaban pembangunan berbasis teknologi.

Bagi ahli pertanian, perkebunan dan kehutanan tentunya harus mampu menerima tantangan dari teknologi industry dan kendaraan dengan menciptakan kultivar yang mampu tumbuh cepat sejalan dengan percepatan teknologi. Begitu pula ahli arsitektur lansekap harus mampu pula mendesain lingkungan agar CO yang dihasilkan industry dan kendaraan dapat direduksi oleh tanaman/pepohonan yang ditempatkan sedemikian rupa sesuai desain lansekapnya. Menerima tantangan sebuah peradaban dengan penciptaan peradaban lain yang saling bersinergis jauh lebih baik ketimbang antar peradaban (bisa dibaca: para ahli/ilmuwan) saling menyalahkan yang tentunya sangat kontak produktif.

Bagi yang jujur dan setia memanfaatkan hasil peradaban manusia berupa teknologi mesin seharusnya mampu mengantisipasi gas beracun yang dihasilkan oleh teknologi yang kita gunakan sehari-hari dengan cara menanam pohon dirumah masing-masing. Hal itu lebih baik ketimbang kita menghindari hasil peradaban manusia dengan cara jalan kaki ketempat kerja atau sekolah yang jaraknya cukup jauh atau hidup tanpa listrik dan computer. Apalagi berusaha untuk memusnahkan pabrik/industry dan kendaraan bermotor. (krd)

September 28, 2008 - Posted by | Lingkungan Hidup | , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: